Malam kian larut, mata Aan belum jua hendak terpejam, bayang-bayang suram masa lalunya terus mengusik batinnya. Upaya demi upaya yang dilakukan untuk hanyut dalam lelapnya tidur, terus menerus terkalahkan oleh gelombang arus kisah perjalanan hidup yang telah ia lalui. Sebuah pergoalakan batin yang sangat luar biasa. Setahun yang lalu, Aan memang telah memantapkan diri untuk meninggalkan segalanya. Kehidupan glamor dan hura-hura hendak ia tepis. Ia bertekad untuk memulai hidup baru yang lebih baik. Apalagi usianya telah menjelang senja.
Sekuat tenaga ia bangkit, hari-harinya terus ia isi dengan hal-hal baik. Meski demikian, disetiap malam menjelang, Aan selalu dihantui dengan berbagai kegelisahan dan membuat dirinya jadi susah tidur di malam hari. Gangguan demi gangguan datang silih berganti, jika bukan mimpi buruk maka pasti ketakutan-ketakutan akan efek dosa dan kesalahan masa lalu yang telah ia toreh. Kedua hal itulah yang selalu mengusik niat baiknya untuk menjadi pribadi yang mulia.
Efek kurang tidur, tubuh Aan tampak kusut di siang hari, tampak jelas perubahan drastis terjadi pada tubuhnya. Pelan bodinya mengurus, matanya melotot, layaknya orang yang tidak mendapat asupan gizi dalam waktu lama. Jangankan sahabat-sahabatnya, orang terdekatnya pun kerap mencibir pilihannya. Stigma-stigma negatif dari berbagai pihak merupakan hal yang lumrah ia temui. Namun kesemuanya itu tak membuat hati Aan menjadi gentar.
Untungnya ia dipertemukan dengan bidadari "kelambu" yang sangat baik dan mengerti dengan keadaannya. Darinya Aan mendapat support penuh. Meski usia pernikahannya dengan Imah masih tergolong mudah, namun hal itu sudah cukup memantapkan niatnya untuk memperbaiki segalanya. Setiap waktu isitrinya selalu hadir memberi semangat dan mensupport setiap keinginan baik Aan.
Teruslah berjuang suamiku, kelak kau akan menemukan buah manis dari upayamu hari ini. Kalimat itulah yang kerap ia dapat dan menjadi obat pelipur lara dikala ia perlahan mulai terpuruk. Suatu ketika, seusai menjalankan shalat magrib secara berjamaah dengan istrinya. Aan meyampaikan hajatnya untuk pisah ranjang malam ini. Ia tak tega melihat tidur nyenyak istrinya terganggu dengan suara desahan dan teriakan spontan dirinya disetiap upayanya melawan masa lalunya.
Sebagai sosok istri yang penurut, tanpa berpikir panjang ia mengabulkan permintaan suaminya. Akhirnya hajat Aan pun terlaksana. Pada jam 10 malam ia meninggalkan kamar istrinya menuju ke kamar sebelah. Disitu ia bermaksud menghabiskan waktunya untuk melawan aura negatif yang selalu hadir menghantuinya. Ia kemudian mengambil air wudhu, lalu membaca wirid dan zikir semampunya di dalam kelambu. Lantunan suci yang terus ia gumamkan, cukup ampuh mengantarnya untuk terlelap sekejap. Tepat pukul 02.00 dini hari, tiba-tiba Aan dikejutkan dengan suara samar di balik kelambunya.
An...Aan...bangun!!!
Akh....kau lagi-lagi. Gumamnya mengecam pengusik itu. Pergi kau, aku tak ingin berurusan denganmu lagi. Bsimillahi tawakkaltu alallah, walaa hawla wala quwwata illah billah, Allahu Akbar!!! Teriaknya.
Maafkan aku telah mengganggu tidurmu Aan, aku hanya ingin menyampaikan satu hal bahwa yang kau lakukan saat ini adalah benar adanya. Pertahankanlah An, niscaya kau akan tumbuh menjadi pribadi yang baik.
Spontan hati Aan bergetar kaku. Ia lalu bergegas membuka kelambunya, lalau bangkit menyalahkan lampu kamarnya. Kagetnya tak kepayang, ia tak menemukan siapapun di dalam kamar itu kecuali pintu kamar yang terbuka lebar. Hati Aan semakin tak karuan, ia lalu keluar dari kamar dan membuka pintu kamar istrinya, disanapun ia tak menemukan pujaan hatinya.
Resah semakin menghantui jiwa dan pikirannya.
Imah...Imah....dimana kau sayang? Berulang kali ia memanggil nama istrinya, tapi tak satu pun jawaban yang ia dengar. Pikiran Aan mulai kalut, jangan-jangan bisikan tadi adalah bisikan dari iblis yang membawa lari istrinya. Gelisah Aan. Ah tida.......ak!!! Sembali tangannya terkepal dan menonjok-nonjok ke tembok.
Imah...Imah....dimana kau sayang? Berulang kali ia memanggil nama istrinya, tapi tak satu pun jawaban yang ia dengar. Pikiran Aan mulai kalut, jangan-jangan bisikan tadi adalah bisikan dari iblis yang membawa lari istrinya. Gelisah Aan. Ah tida.......ak!!! Sembali tangannya terkepal dan menonjok-nonjok ke tembok.
Astagfirullah ya Allah....ampuni aku ya Allah....salah apalagi yang aku lakukan malam ini hingga aku harus kehilangan istriku???
Alhamdulillahi rabbil alamin!!! Suara itu membuat mata Aan terbuka lebar. Seketika ia bangkit dari sungkurnya, lalu menilsik ke arah suara itu berasal.
Dari ruang tv tampak sosok yang mengenakan pakaian putih bersih dari atas hingga ke bawah. Aan sempat merasa ketakutan, tapi setelah lampu dinyalakan Aan tiba-tiba sujud syukur.
Ya Allah ternyata suara yang memanggilku, bisikan yang baru saja membangunkanku adalah suara dan bisikan dari istriku yang bermaksud mengajakku menunaikan shalat malam.
Setelah kejadian tersebut, Aan baru sadar jika selama ini ia salah dalam menangani masalah pribadinya. Untungnya istri tercinta kian setia menemaninya.
Suamiku, bukankah dari dulu kau beragama dan berkeyakinan? Bukankah Syahadat telah kau ikrarkan? Bukankah kau percaya bahwa Allah Maha Melihat, Maha Mengasihi? Lantas mengapa kau tak yakin bahwa dengan berzikir kepadanya hati akan menjadi tenang.
Tak terasa air mata Aan bercucuran mendengar nasehat istrinya. Maafkan aku Aan, aku sengaja tak mejawab seruanmu barusan, aku ingin melihat sejauh mana kekhawatiranmu mengalahkan kuasa Allah pada dirimu. Tapi Alhamdulillah, kegelisahan memang punya kekuatan untuk membuat kita berpaling kepada-Nya. Dan bersyukurlah kau suamiku karena selama ini kau masih dianugrahi hal tersebut. Itu berarti bahwa Allah masih sayang kepadamu.