Berbagi dengan sesama
adalah bagian dari keharusan hidup dan sejarah. Sudah kodratnya manusia hidup
bersama dalam suatu komunitas yang disebut dengan “keluarga, Negara, etnik, dan
lain-lain”. Konsekuensi logis dari tuntunan takdir tersebut adalah interaksi satu
sama lain.
Dari proses interaksi tersebut,
manusia dituntunt untuk saling memahami dan menghargai, yang nantinya berujung
pada satu pemahaman khusus bahwa “aku adalah bagian dari yang lain, dan yang
lain adalah bagian dari aku”, “aku memiliki keterbatasan dan yang lainnya
memiliki kelebihan, demikian halnya sebaliknya”, “kelebihanku dapat bermanfaat
untuk menutupi kekurangan yang lain, dan demikian pula sebaliknya”. Inilah yang
kusebut dengan harmonitas sosiologis.
Tersampainya kesadaran
seseorang pada titik ini, akan menuntunnya untuk berbagi satu sama lain,
sekalipun hanya dengan secuil senyum. Inilah spirit yang melatari perumusan dan
penerbitan blog from zero to hero bahwa “berbagi itu indah” walau hanya dengan tulisan, sebab
aku percaya bahwa tulisan (teks) “sejak ditemukannya” telah disepakati sebagai
bagian dari budaya yang terintegsi dengan kehidupan manusia itu sendiri. Bahkan
tulisan (teks) memiliki kemampuan untuk mengubah realitas. Lebih jauh lagi,
meminjam istilah Marcus Comandante bahwa “teks adalah senjata revolusi”.