Titisan Pesan Ayah

Seusai menunaikan pengabdian kekharibaan-Nya pada subuh dini hari, Aan berdiri dan merapikan sajadah peninggalan ayahnya. Setelah ia simpan di tempat biasanya, Aan menuju teras rumah dan menyendiri di sana. Di tangannya tampak tasbih tua dengan bijian yang seukuran kelereng. 
Eh pusakan Biksu Tong keluar lagi, ledek adiknya manja yang mengintip dari balik jendela.
Aan hanya tersenyum lirih melihat adegan adik putri kesayangannya.
Tak lama hal itu berlalu, Aan kemudian pelan menarik satu persatu butiran tasbih tersebut, sembari bibirnya terus bergumam "Astagfirullah...Astagfirullah...Astagfirullah". Kelompak matanya basah, titisan-titisan air kecil tampak berjatuhan mengenai baju gamisnya. Aan tampak kusut mengibah maaf, sembari menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kayu buatan tangannya.
Dalam kondisi mata terpejam, Aan tidak sadar dengan ucapan salam yang disampaikan oleh seorang kakek tua dengan peci putih bersih yang menjambangi kediamannya. Orang-orang sekampung kerap memanggil kakek tersebut dengan sebutan pak Haji. Pak Haji tak menghiraukan keadaan Aan, ia langsung duduk di depan Aan, sambil menunggu Aan berbalik ke sisinya.
Astagfirullah.....spontan Aan kaget tak kepayang setelah melihat Pak Haji di hadapannya. Ia langsung meninggalkan kursi dan sujud menyelami tangan Pak Haji. 
Maafkan aku jika mengganggu ketenanganmu nak! Tegas Pak Haji.
Oh tidak Pak Haji, aku malah senang jika Pak Haji sudi mampir ke rumah kami. Jawab Aan.
Pak Haji dari tadi disini? Tanya Aan penasaran.
Tidak nak, baru saja.
Put...Put...Putri...tolong bikin kopi dek!!! Teriak Aan memohon kepada adik manjanya.
Iya Biksu! Jawab putri sambil meledek.
Tak lama kemudian, dua gelas kopi disertai rebusan pisang mudah telah tersaji di hadapan mereka.
Pak Haji lalu bertanya "Nak akhir-akhir ini saya sering melihat kau menyendiri di sudut teras ini" apa ada masalah nak? 
Tidak Pak Haji, aku hanya merasa tenang saja jika duduk di tempat ini.
Oh gitu. Tapi kenapa mata kamu lembab begitu nak?
A..anu Pak Haji. Belum sempat Aan melanjutkan jawabannya, Pak Haji langsung menyelahnya dengan cara menepuk pundak Aan.
Gini nak, saya ini sudah tua, sebentar lagi ajal akan tiba menjemputku. Aku kesini untuk menyampaikan sesuatu dari almarhum ayahmu dulu. Ayahmu adalah teman baikku sedari dulu, bahkan ia termasuk teman seperjuangan dan seperguruanku. Sebenarnya aku juga selalu merasa sedih dengan kepergiannya. Tapi yah, demikian takdir berkata dan harus diterima dengan lapang dada.
Aan terkesimak mendengar penuturan Pak Haji. Ia tak pernah menyangka jika Ayahnya almarhum akrab dengan sosok kharismatik dan dikagumi banyak orang ini.
Kalau boleh tau pak, apa pesan ayahku almarhum. Desak Aan.
Tenang dulu nak, silahkan minum kopinya. 
Oh iya Pak Haji, silahkan-silahkan...sambil tersenyum lirih.
Begini nak, kira-kira menurut Aan zikir itu apa? Tanya Pak Haji serius. Aan kan sekolahnya tinggi, tidak salahkan jika saya bertanya pada orang yang saya anggap punya pendidikan tinggi.
Waduh...Aan merasa terpojok dengan apa yang Pak Haji sampaikan barusan. Tapi sebagai kaum akademis, dengan berat hati ia menjawab pertanyaan Pak Haji semampunya. Ya sepanjang pengetehauan saya, zikir ialah mengingat Allah. Jawabnya dengan pelan.
Pak Haji mengangguk-angguk mendengar jawaban Aan. Oh begitu yah nak???
Iya Pak Haji. Memangnya ada apa Pak Haji, kok bertanya seperti itu. Semestinyakan saya yang harus bertanya pada Pak Haji jika menyangkut soal agama.
Pak Haji tersenyum mendengar tuturan Aan. Ia lalu berkata, nak menurut ayahmu dulu bahwa mengingat itu berbeda dengan menyebut. Sepenggal kalimat itu membuat posisi duduk Aan spontan berubah. Ia mengangkat kedua kakinya ke atas kursi, duduk bersila sambil memperbaiki posisi menghadap Pak Haji. Terus Pak Haji. Desak Aan.
Kata bapakmu dulu, menyebut merupakan gerak lisan, sementara mengingat adalah gerak batin. Hal yang dapat diingat ialah yang telah lalu, sementara yang disebut bisa jadi belum berlaku.
Kalimat itu kian menambah rasa penasaran Aan. Tak terasa secangkir kopi di hadapannya raup ia teguk, demikian halnya dengan rebusan pisang. Tak satu pun yang tersisah untuk Pak Haji.
Aan ingatkan bagaimana proses Aan menghabiskan rebusan pisang barusan???
Astagfirullahul adzim...maaf Pak Haji. Ketawa Aan lirih karena merasa malu.
Gimana nak, ingat kan? Aan kemudian memejamkan mata sejenak, setelah itu ia menjawab "Ia Pak Haji ingat". Nah demikian itulah gambaran singkat tentang mengingat nak. Tegas Pak Haji. 
Lalu bagaimana kaitannya dengan zikir-zikir Pak Haji? Tanya Aan mengejar.
Kalau zikir dalam pengertian menyebut, anak kecil yang sudah mampu berbicarapun bisa nak. Tapi jika menyangkut dengan hal mengingat maka tak semua orang bisa lakukan. Sebab syarat dari sebuah ingatan adalah pengenalan atas masa lalu dan keterlibatan serta diri kita di dalamnya. Nah, ada dua hal yang senantiasa memberi bekas yang dalam pada manusia, yakni kejadian menyenangkan dan kejadian yang menyesakkan dada. Kedua hal tersebut masing-masing punya ruang sama untuk diingat secara baik dan mendalam. Tegas Pak Haji mantap.
Aan terdiam mendengar penuturan luar biasa dari Pak Haji tersebut. Sambil berkata, sebab istigfar karena adanya kejadian masa lampau yang dianggap menyimpang atau salah, sedangkan sebab pujian karena tumbuhnya kesadaran akan banyaknya limpahan nikmat yang tak kuasa dihitung dengan angka matematis. Tutur Aan dengan mantap.
Pak Haji tersenyum sumringah mendengar jawaban Aan tersebut. Ia lalu berkata, sebagian dari pesan almarhum ayahmu telah kau tangkap nak. Semoga kelak kau menemukan rahasia di balik setiap perintah-perintah agama.

Pesan dari Balik Kelambu

Malam kian larut, mata Aan belum jua hendak terpejam, bayang-bayang suram masa lalunya terus mengusik batinnya. Upaya demi upaya yang dilakukan untuk hanyut dalam lelapnya tidur, terus menerus terkalahkan oleh gelombang arus kisah perjalanan hidup yang telah ia lalui. Sebuah pergoalakan batin yang sangat luar biasa. Setahun yang lalu, Aan memang telah memantapkan diri untuk meninggalkan segalanya. Kehidupan glamor dan hura-hura hendak ia tepis. Ia bertekad untuk memulai hidup baru yang lebih baik. Apalagi usianya telah menjelang senja.
Sekuat tenaga ia bangkit, hari-harinya terus ia isi dengan hal-hal baik. Meski demikian, disetiap malam menjelang, Aan selalu dihantui dengan berbagai kegelisahan dan membuat dirinya jadi susah tidur di malam hari. Gangguan demi gangguan datang silih berganti, jika bukan mimpi buruk maka pasti ketakutan-ketakutan akan efek dosa dan kesalahan masa lalu yang telah ia toreh. Kedua hal itulah yang selalu mengusik niat baiknya untuk menjadi pribadi yang mulia.
Efek kurang tidur, tubuh Aan tampak kusut di siang hari, tampak jelas perubahan drastis terjadi pada tubuhnya. Pelan bodinya mengurus, matanya melotot, layaknya orang yang tidak mendapat asupan gizi dalam waktu lama. Jangankan sahabat-sahabatnya, orang terdekatnya pun kerap mencibir pilihannya. Stigma-stigma negatif dari berbagai pihak merupakan hal yang lumrah ia temui. Namun kesemuanya itu tak membuat hati Aan menjadi gentar.
Untungnya ia dipertemukan dengan bidadari "kelambu" yang sangat baik dan mengerti dengan keadaannya. Darinya Aan mendapat support penuh. Meski usia pernikahannya dengan Imah masih tergolong mudah, namun hal itu sudah cukup memantapkan niatnya untuk memperbaiki segalanya. Setiap waktu isitrinya selalu hadir memberi semangat dan mensupport setiap keinginan baik Aan. 
Teruslah berjuang suamiku, kelak kau akan menemukan buah manis dari upayamu hari ini. Kalimat itulah yang kerap ia dapat dan menjadi obat pelipur lara dikala ia perlahan mulai terpuruk. Suatu ketika, seusai menjalankan shalat magrib secara berjamaah dengan istrinya. Aan meyampaikan hajatnya untuk pisah ranjang malam ini. Ia tak tega melihat tidur nyenyak istrinya terganggu dengan suara desahan dan teriakan spontan dirinya disetiap upayanya melawan masa lalunya.
Sebagai sosok istri yang penurut, tanpa berpikir panjang ia mengabulkan permintaan suaminya. Akhirnya hajat Aan pun terlaksana. Pada jam 10 malam ia meninggalkan kamar istrinya menuju ke kamar sebelah. Disitu ia bermaksud menghabiskan waktunya untuk melawan aura negatif yang selalu hadir menghantuinya. Ia kemudian mengambil air wudhu, lalu membaca wirid dan zikir semampunya di dalam kelambu. Lantunan suci yang terus ia gumamkan, cukup ampuh mengantarnya untuk terlelap sekejap. Tepat pukul 02.00 dini hari, tiba-tiba Aan dikejutkan dengan suara samar di balik kelambunya.
An...Aan...bangun!!!
Akh....kau lagi-lagi. Gumamnya mengecam pengusik itu. Pergi kau, aku tak ingin berurusan denganmu lagi. Bsimillahi tawakkaltu alallah, walaa hawla wala quwwata illah billah, Allahu Akbar!!! Teriaknya.
Maafkan aku telah mengganggu tidurmu Aan, aku hanya ingin menyampaikan satu hal bahwa yang kau lakukan saat ini adalah benar adanya. Pertahankanlah An, niscaya kau akan tumbuh menjadi pribadi yang baik.
Spontan hati Aan bergetar kaku. Ia lalu bergegas membuka kelambunya, lalau bangkit menyalahkan lampu kamarnya. Kagetnya tak kepayang, ia tak menemukan siapapun di dalam kamar itu kecuali pintu kamar yang terbuka lebar. Hati Aan semakin tak karuan, ia lalu keluar dari kamar dan membuka pintu kamar istrinya, disanapun ia tak menemukan pujaan hatinya.
Resah semakin menghantui jiwa dan pikirannya.
Imah...Imah....dimana kau sayang? Berulang kali ia memanggil nama istrinya, tapi tak satu pun jawaban yang ia dengar. Pikiran Aan mulai kalut, jangan-jangan bisikan tadi adalah bisikan dari iblis yang membawa lari istrinya. Gelisah Aan. Ah tida.......ak!!! Sembali tangannya terkepal dan menonjok-nonjok ke tembok.
Astagfirullah ya Allah....ampuni aku ya Allah....salah apalagi yang aku lakukan malam ini hingga aku harus kehilangan istriku???
Alhamdulillahi rabbil alamin!!! Suara itu membuat mata Aan terbuka lebar. Seketika ia bangkit dari sungkurnya, lalu menilsik ke arah suara itu berasal.
Dari ruang tv tampak sosok yang mengenakan pakaian putih bersih dari atas hingga ke bawah. Aan sempat merasa ketakutan, tapi setelah lampu dinyalakan Aan tiba-tiba sujud syukur. 
Ya Allah ternyata suara yang memanggilku, bisikan yang baru saja membangunkanku adalah suara dan bisikan dari istriku yang bermaksud mengajakku menunaikan shalat malam.
Setelah kejadian tersebut, Aan baru sadar jika selama ini ia salah dalam menangani masalah pribadinya. Untungnya istri tercinta kian setia menemaninya. 
Suamiku, bukankah dari dulu kau beragama dan berkeyakinan? Bukankah Syahadat telah kau ikrarkan? Bukankah kau percaya bahwa Allah Maha Melihat, Maha Mengasihi? Lantas mengapa kau tak yakin bahwa dengan berzikir kepadanya hati akan menjadi tenang.
Tak terasa air mata Aan bercucuran mendengar nasehat istrinya. Maafkan aku Aan, aku sengaja tak mejawab seruanmu barusan, aku ingin melihat sejauh mana kekhawatiranmu mengalahkan kuasa Allah pada dirimu. Tapi Alhamdulillah, kegelisahan memang punya kekuatan untuk membuat kita berpaling kepada-Nya. Dan bersyukurlah kau suamiku karena selama ini kau masih dianugrahi hal tersebut. Itu berarti bahwa Allah masih sayang kepadamu.

 
Free Website templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesFree Soccer VideosFree Wordpress ThemesFree Web Templates